Terjemah Kalam al-Habib Abu Bakar al-Adni bin Ali al-Masyhur
"Jadi, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Cukup kematian menjadi nasehat"
"Cukup kematian menjadi nasehat"
Yaitu mempersiapkan dirinya, anak-anaknya dan tanggung jawabnya untuk mengajarkan mereka, mengenalkan mereka.
Tidak ada yang mengenalkan kamu dalam kehidupan seperti konsep penting ini.
Konsep-konsep ini di ambil dari dalam dada, bukan dari dalam buku.
Ilmu yang ada di dalam buku itu ratusan bahkan ribuan.
Mereka lulus dari universitas di tempat-tempat pendidikan lainnya.
Tentu saja secara umum sangat penting
Tapi kita sebagai umat Muhammad memiliki ilmu lain yang di ambil dari dalam dada.
Allah berfirman: "Sebenarnya al-Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang di beri ilmu."
Di dalam dada orang-orang yang di beri ilmu, bukan di dalam dada orang-orang yang mencari ilmu.
Ini ilmu laduni (batin), ilmu keyakinan yang besar, ini ilmu kewalian.
Ini ilmu orang-orang yang bermartabat, ini ilmu yang orang-orang yang bersih pemikirannya.
Ini di namakan ilmu "shufi" dalam arti yang luhur, bukan dalam arti yang kita lihat dan dengar dari kekacauan umat Muhammad ﷺ yang hidup sekarang ini dan konflik yang terjadi dari beberapa aspek sosial.
Ini adalah kesucian martabat ihsan
Yaitu kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihat kamu.
Jangan jadikan debu dan kabut mengacaukan pengetahuan kamu.
Kita umat islam, umat beriman, umat ihsan, umat berpengetahuan dan umat berkeyakinan.
Tanyalah di zamanmu dimana ilmu itu?
Siapa yang tahu akan kebenaran ilmu itu?
Maka dari itu orang tua dari keluarga yang sholeh agar menjaga metode dan cara yang lurus.
Metode orang tua dahulu, metode Nabi ﷺ di tambah dengan metode studi modern, di tambah lagi dengan studi akademi, di tambah dengan studi kehidupan sosial, di tambah dengan pergi keluar negeri menurut ilmu, naiklah sampai ruang angkasa, naiklah sampai keruang angkasa.
Tapi kita harus tahu, siapa yang menciptakan angkasa, kita harus tahu siapa yang memberi kepada kamu sebab.
Dan kamu harus tahu siapa Tuhanmu, karena sekarang banyak orang belajar lalu menyembah alat.
Banyak manusia sekarang ini belajar lalu menyembah hukum teoritas.
Banyak manusia sekarang ini belajar lalu menyembah dzat-dzat (yang berbentuk manusia).
Dan ini terjadi seperti di zaman Fir'aun
Dan ini terjadi seperti mirip dengan model Fir'aun, yang menyembah sesuatu yang nampak dan kelihatan selain Allah.
Kita bermohon kepada Allah menjaga kita dan negara-negara islam."
_
Kesimpulan:
Jika anda melihat seseorang yang memiliki perpustakaan dengan ratusan ribu bahkan jutaan examplar buku, tidak usah heran dan kaget sebelum mengetahui kadar keilmuan pemiliknya. Karena seseorang dikatakan berilmu bukan karena ia memiliki koleksi buku tetapi bagaimana ia membaca, memahami dan mengamalkan ilmu yang ia miliki. Karena ilmu sebenarnya bukan yang ada didalam tumpukan buku tetapi yang ada didalam dada kita.
Allah berfirman:
بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ
Artinya: "Sebenarnya, al-Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu."
Atau seperti perkataan seorang penyair Arab:
كالعير في الصخراء يقتله الظما .. والماء فوق ظهورها محمول
"Laksana kafilan onta yang hampir mati kehausan.. Padahal ia membawa air di atas punggungnya"
Maka bagi seorang yang memiliki sebuah mushaf kemudian ia membaca, merenungkannya serta mengamalkannya jauh lebih bermanfaat dari pada seseorang yang memiliki koleksi jutaan examplar buku tetapi tidak di manfaatkan dengan sebaik-baiknya..
Wallahu'alam
_
مجلس احباب الزهراء و البتول 🤍🌼